Metode selective mining atau penambangan selektif merupakan suatu metode penambangan yang dilakukan dengan cara mengambil mineral/bijih yang memiliki nilai ekonomis tinggi saja. Umumnya metode selective mining digunakan untuk melakukan kegiatan eksplorasi bijih nikel yang lokasinya tersebar secara tidak merata/heterogen.

Secara garis besar, selective mining ini hanya akan mengambil dan memisahkan bijih nikel dengan kadar tinggi di atas Cut of Grade (COG) atau yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain bijih dengan nilai ekonomi atau kandungan yang rendah akan dibiarkan atau dibuang.

Nah, ada 4 langkah yang bisa digunakan untuk menentukan bijih nikel yang sesuai kriteria.

  1. Pembuatan Database
    Data hasil logging bor/data lubang bor dipetakan dalam software pengolah data beserta dengan data-data pendukung seperti collar, assay, geologi, data survey, dan lain-lain. Database ini yang nantinya akan digunakan sebagai landasan pembuatan model dan pembuatan keputusan penambangan menggunakan metode selective mining.
  2. Pembuatan Block Model
    Langkah ini dimaksudkan untuk memetakan blok atau zona-zona yang memiliki nilai kadar bijih nikel yang sesuai dengan kebutuhan market. Misal diambil di rentang 1.80% – 1.9%, maka di luar rentang itu tidak akan masuk ke dalam blok model yang dibuat dan artinya tidak akan ditambang atau dibuang.
  3. Pengambilan Sampel
    Proses sampling ini dilakukan untuk mengecek seberapa akurat modeling selective mining yang telah dibuat sebelumnya dengan keadaan nyata nilai kadar bijih nikel di lapangan supaya tidak ada kerugian seperti tertinggalnya sumber daya mineral yang seharusnya masuk dalam standar kualitas yang telah ditentukan.
  4. Penambangan
    Proses penambangan dilakukan hanya pada titik bor potensial yang memiliki kadar bijih nikel yang diinginkan. Bukan asal keruk, namun harus dilakukan dengan sangat berhati-hati mengikuti lokasi titik bor yang dimaksud dalam model awal.

Keterampilan operator sangat diperlukan pada saat melakukan penambangan dengan metode selective mining agar mineral bijih yang diambil tidak terkontaminasi dengan material pengotor di sekitar sehingga bisa menurunkan kualitasnya.

Metode penambangan selective mining ini banyak menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan lebih efektif, ada juga yang mengatakan merugikan atau merusak cadangan lainnya.

 

Baca Juga: Nilai Tambah Milyaran, Hilirisasi Nikel Indonesia Sukses Besar

Hasil signifikan dari dikeluarkannya keputusan pemberhentian ekspor nikel tahun 2020 lalu sudah bisa dilihat secara nyata hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja. Sesignifikan apa hasilnya? Yuk kita simak, pastikan jangan kaget ya sama datanya!

Menurut Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI):

“Kalau kita review dulu, sejak pemberhentian ekspor (bijih nikel) di tahun 2020 awal yang akhirnya kita dapat gugatan WTO. Sebenarnya, program hilrisasi nikel ini sudah teramat berhasil. Malah bagi kami ini terlalu over

Bagaimana tidak dibilang “over”, pada tahun 2021 nilai ekspor nikel mencapai US$ 20,9 Miliar atau sekitar Rp 323 Triliun. Tidak berhenti disitu pada tahun 2022 Indonesia berhasil meraup US$ 33 Miliar atau sekitar Rp 514 Triliun dari hilirisasi nikel!

Jika dibandingkan saat masih mengekspor nikel dalam bentuk raw material, per tahunnya Indonesia hanya mendapatkan nilai tambah pada kisaran angka Rp 17 Triliun saja. Sangat jauh di bawah dari hasil saat ini bukan?

Hal ini tentu saja tidak lepas dari banyaknya pabrik pengolahan nikel yang bermunculan di negeri kita. Hingga tahun 2023 ini ada sekitar 43 pabrik pengolahan nikel yang beroperasi dan masih terus bertambah. Diperkirakan pada tahun 2025, akan ada kurang lebih 136 pabrik pengolahan nikel. Semakin banyak maka akan semakin bagus pula flow pengolahan nikel di negeri kita.

Keberhasilan hilirisasi nikel juga didukung dengan angka konsumsi nikel dalam negeri yang semakin meningkat, bahkan di tahun 2023 ini Indonesia konsumsi nikel dalam negeri diperkirakan akan mencapai 145 juta ton dan akan terus meningkat hingga tahun 2025 bisa mencapai 400 juta ton per tahun.

Bukan mustahil cita-cita Indonesia untuk membangun Giga Battery Factory akan terwujud dengan angka-angka yang sangat menjanjikan ini. Apalagi Indonesia tercatat memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, tepatnya yaitu 52% dari total cadangan nikel dunia.

Dengan mempertimbangkan produk hasil turunan nikel yang beragam, Septian Hario Seto (Kemenko Marves), menargetkan nilai tambah hasil hilirisasi nikel di tahun 2023 bisa mencapai angka US$ 38 Miliar atau sekitar Rp 592,2 Triliun.

 

Baca Juga: Cara Menentukan Cut of Grade (COG) Nikel

Optimum Cut of Grade Nikel merupakan salah satu topik yang menarik dalam dunia pertambangan nikel. Dalam artikel ini, akan dijelaskan mengenai pengertian serta faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan cut off grade.

Optimum Cut of Grade adalah nilai cut off yang dapat menghasilkan profit maksimum dalam pengolahan bijih. Kadar batas optimum/optimum cut of grade ini ditentukan dengan tujuan untuk memisahkan material bijih ekonomis dan material waste.

Bijih nikel yang memiliki kadar rata-rata di atas optimum COG dinamakan bijih, sedangkan kadar yang ada di bawah optimum COG dinamakan waste. Kedua jenis material ini harus dipisahkan supaya didapatkan bijih nikel yang ekonomis.

Nilai COG dinyatakan dalam persen (%), misal nikel laterit dengan COG 1,5% atau COG 2,0%. Penentuan nilai COG ini harus disesuaikan dengan beberapa faktor seperti:

Metode pemodelan dalam menentukan optimum COG secara garis besar dilakukan dengan 6 hal tahap berikut ini:

  1. Kajian pustaka: meneliti dan menelaan model-model acuan
  2. Perumusan masalah: mengetahui fungsi tujuan pemodelan dan berbagai macam asumsi
  3. Pendefinisian sistem relevan dari pemodelan
  4. Formulasi model
  5. Penentuan solusi model
  6. Analisis model solusi dan rencana pengembangan model.

Pemodelan COG ini juga tidak terlepas dari perhitungan parameter-parameter berikut ini:

1. Sistem penambangan nikel

Hal ini akan diperhitungkan mulai dari penambangan di pit hingga pemuatan ke kapal.

2. Asumsi-asumsi

Misal biaya penambangan bijih nikel laterit dalam satu periode tertentu, tingkat suku bunga tetap, dll. Statement-statement ini akan digunakan sebagai pijakan dalam membuat pemodelan.

3. Notasi dan Definisi

Penjelasan parameter dan variabel yang digunakan dalam pemodelan. Misalnya seperti:

4. Formulasi Model

Selain dari sisi teknis penambangan seperti penentuan cadangan optimum, umur tambang, hingga desain pit, penentuan COG wajib dan harus mempertimbangkan sisi ekonomi. Penentuan keuntungan simpelnya bisa dirumuskan dengan:

Profit =  Harga Jual – Biaya Penambangan

Nilai optimum COG ini memiliki hubungan terbalik dengan cadangan nikel laterit, artinya:

 

Baca juga: Bagaimana Nikel Laterite Terbentuk?

PT Bawah Tanah Solusindo
Copyright © 2010 – 2023 All Rights Reserved
chevron-downchevron-down-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram