Batubara merupakan batuan sedimen yang terbentuk karena proses pengendapan. Umumnya batubara terendapkan dalam suatu cekungan sedimen bersama dengan jenis batuan sedimen lainnya dan memiliki struktur perlapisan.

Terdapat istilah yang sering digunakan dalam dunia pertambangan untuk mendefinisikan batuan sedimen non batubara yang terendapkan dalam cekungan sedimen yang sama dengan batubara tersebut yaitu: Overburden, Interburden, Underburden, dan Parting.

Overburden

Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lapisan batuan non batubara yang terendapkan pada permukaan bumi hingga bagian atas suatu lapisan batubara. Lapisan tanah pucuk (top soil) dan subsoil termasuk pada klasifikasi ini. Overburden ini harus dihilangkan untuk memudahkan proses pengambilan batubara. Proses penghilangan overburden harus dilakukan dengan hati-hati untuk meminimalkan dampak lingkungan. Setelah overburden dihilangkan, batubara dapat diekstraksi dan diproses untuk dijual atau digunakan untuk keperluan industri.

Interburden

Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lapisan batuan non batubara yang terendapkan diantara dua lapisan batubara. Interburden umumnya diklasifikasikan dengan ketebalan minimum tertentu sesuai dengan tingkat mineable suatu lapisan batubaranya. Material interburden umumnya berupa tanah, lempung, pasir, dan kerikil.

Underburden

Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lapisan batuan non batubara pada bagian bawah suatu lapisan batubara. Istilah underburden umumnya digunakan pada batuan non batubara yang terletak dibawah basal seam (lapisan batubara paling bawah).

Parting

Merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut lapisan tipis batuan non batubara yang terendapkan diantara dua batubara. Parting juga sering disebut sebagai sisipan. Parting bisa menjadi penyebab dilusi pada batubara, parting dapat membuat proses penambangan lebih sulit dan mahal, kemampuan operator dalam pengambilan batubara disinipun sangat diuji agar batubara yang didapatkan tidak tercampur dengan material pengotor dari parting.

Keempat istilah tersebut umum digunakan dalam dunia pertambangan terutama dalam setiap aktivitas operasional. Batubara sebisa mungkin harus ditambang dalam kondisi minim pengotor, sehingga kualitasnya bagus dan harga jualnya tinggi. Dalam semua kasus, penanganan interburden, overburden, underburden, dan parting harus dilakukan dengan hati-hati untuk meminimalkan dampak lingkungan dan menjaga keselamatan kerja di lokasi tambang.

 

Baca Juga: Sektor Usaha Dengan Gaji Terbesar: Tambang

Di Indonesia ada berbagai macam sektor usaha dan tentu saja dengan dengan berbagai variasi gaji. Namun sebenarnya sektor usaha apa saja yang menjanjikan gaji besar? Apakah pertambangan termasuk di dalamnya?

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata upah buruh di Indonesia pada Agustus 2021 adalah sebesar Rp 2,74 juta per bulan.

Ternyata jika diurutkan 10 sektor usaha di Indonesia, di urutan pertama adalah industri pertambangan dan penggalian dengan rata-rata gaji Rp 4,33 juta per bulan.

Berikut adalah 10 sektor usaha di Indonesia dengan rata-rata gaji bulanan tertinggi:

Alasan mengapa sektor pertambangan masuk dalam kategori sektor usaha dengan gaji tertinggi adalah:

  1. Tingginya Risiko Pekerjaan

Pekerjaan di sektor pertambangan yang memiliki risiko tinggi akan terjadinya kecelakaan kerja menyebabkan para pekerja yang bekerja di sektor pertambangan mendapatkan kompensasi lebih tinggi mengimbangi risiko yang dihadapi.

2. Keterampilan Teknik Khusus

Dalam sektor pertambangan dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan teknik khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang. Sehingga pekerja dengan kualifikasi dan pengalaman kerja yang sesuai akan mendapatkan gaji tinggi.

3. Terbatasnya Sumber Daya Alam

Tidak semua wilayah di negeri memiliki komoditas tambang yang ekonomis, dengan keterbatasan SDA dan permintaan pasar yang tinggi menyebabkan beberapa posisi di sektor tambang perlu ditambahkan.

 

Apakah ketiga alasan ini sudah menjawab mengapa sektor pertambangan menawarkan gaji yang besar bagi para pekerjanya?

 

Baca Juga: Ini Dia Alasan di Jawa Tidak Ada Tambang Batubara

Kenapa tambang-tambang batubara di Indonesia kebanyakan hanya terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera? Kenapa sampai saat ini tidak ada tambang batubara yang berlokasi di tanah Jawa? Nah berikut adalah penjelasannya..

Bahan dasar batubara adalah gambut, gambut sendiri baru bisa terbentuk jika:

Dalam hal ini Indonesia memiliki keunggulan karena beriklim tropis sehingga tumbuhan dapat hidup dengan subur dan bahan baku pembentukan gambut melimpah. Namun, gambut ini harus terendapkan dan terakumulasi dalam sebuah cekungan yang besar sehingga nantinya bisa didapatkan batubara yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis.

Cekungan di Indonesia sendiri seperti Cekungan Barito, Cekungan Kutai, dan Cekungan Tarakan di Kalimantan mulai terbentuk pada periode Tersier Awal (Sekitar 80 juta tahun lalu). Cekungan ini terbentuk sebab ada pergerakan lempeng tektonik yang menyebabkan pengangkatan dan penurunan daerah-daerah tertentu sehingga terbentuklah cekungan atau basin.

Dibandingkan dengan cekungan di Pulau Jawa, cekungan yang ada di Pulau Kalimantan ini sudah lebih dulu mengakumulasi gambut lebih banyak dan lebih lama sehingga kini dijumpai batubara yang tebal dan ekonomis. Terlebih secara tektonik, daerah tersebut juga relatif stabil dan tidak banyak gangguan pada cekungan yang mengakumulasi gambut.

Sedangkan kondisi paleogeografi Pulau Jawa tidak memungkinkan untuk membentuk gambut dan coal hadir di basin yang relatif dangkal.

Jadi bisa disimpulkan bahwa korelasi antara pembentukan cekungan dengan proses teknonik saat Indonesia terbentuklah yang menyebabkan batubara hanya bisa dijumpai pada lokasi-lokasi tertentu.

Namun jika dilihat lebih teliti, di wilayah seperti Kulon Progo Yogyakarta, Bayah Banten, terdapat endapan batubara meskipun keberadaannya tipis dan belum bisa dibilang ekonomis untuk ditambang seperti di wilayah Kalimantan atau Sumatera.

 

Baca Juga: Aktivitas Pit to Port Batubara, Ada Apa Saja?

Berbicara tentang stockpile management bukan hanya berhenti pada penyimpanan material batubara saja. Ada 3 hal penting yang dilakukan dalam stockpile management, ini dia penjelasannya.

1. Storage Management

Fungsi utama stockpile adalah untuk penyimpanan. Desain stockpile, kapasitas penyimpanan, dan sistem penumpukan batubara semua harus direncanakan dengan matang agar kualitas batubara tetap terjaga.

Storage management di tambang memiliki tujuan utama untuk:

2. Quality and Quantity Management (QQM)

 QQM mengacu pada pengawasan terhadap kualitas material yang disimpan di stockpile.

Apabila QQM dilaksanakan dengan baik maka dapat dipastikan bahwa material yang disimpan di stockpile memiliki kualitas yang baik dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan produksi yang telah ditentukan.

3. Blending Management

Blending atau pencampuran ini dilakukan di stockpile untuk mencampurkan beberapa jenis kualitas batubara yang berbeda menjadi satu jenis material yang memiliki kualitas dan komposisi yang lebih homogen. 

Dalam blending management di stockpile tambang melibatkan beberapa proses seperti:

Blending management sangat penting untuk untuk memastikan kualitas dan komposisi material yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan produksi dan spesifikasi user.

3 hal dalam stockpile management ini harus benar-benar diperhatikan untuk:

Sehingga material batubara bisa sampai di tangan user dengan kondisi yang baik dan sesuai dengan kesepakatan.

Baca Juga: Rangkaian Aktivitas Pit to Port Tambang Batubara

Aktivitas pengerukan dan pengangkutan batubara yang sering muncul di beranda social media ternyata hanyalah salah satu scene dari sekian banyak rangkaian proses pit to port activity. Sebenarnya kegiatan apa saja yang dilakukan di tambang hingga menghasilkan produk batubara yang siap untuk didistribusikan?

Secara umum ada 6 aktivitas atau tahapan yang dilakukan mulai dari area tambang hingga loading ke tongkang. Diantaranya adalah:

1. Land Clearing

Tahap pembersihan suatu lahan dari pepohonan dan keanekaragaman hayati lainnya sebelum lahan tersebut digunakan untuk area tambang. Tujuan dari land clearing adalah untuk memberikan akses dan ruang untuk penambangan dan menghilangkan potensi bahaya yang ditimbulkan oleh tumbuhan seperti kebakaran dan kerusakan pada peralatan dan fasilitas tambang.

2. Top Soil

Pengupasan lapisan tanah yang kaya nutrisi untuk disendirikan sebab akan digunakan lagi untuk reklamasi setelah kegiatan penambangan selesai. Hal ini juga dapat dikombinasikan dengan penggunaan teknik reklamasi yang bertujuan untuk memulihkan dan memperbaiki kondisi lingkungan setelah proses pengambilan tanah.

3. Drilling and Blasting

4. Overburden Removal and Dumping

Pengangkutan lapisan batuan penutup yang telah diledakkan untuk dipindahkan ke area disposal. Overburden ini harus dipindahkan sebelum proses penambangan dimulai untuk mendapatkan akses ke deposit mineral yang diinginkan.

5. Coal Getting

Proses gali muat batubara menggunakan excavator dan dump truck untuk kemudian diangkut ke tempat penampungan (stockpile). Metode coal getting yang umum digunakan adalah open pit dan underground mining.

6. Coal Barging

Pemindahan batubara menuju port/pelabuhan untuk dimasukkan kedalam barge atau tongkang baik menggunakan conveyor maupun dump truck. Setelah dimuat tongkang akan dikemudikan ke lokasi tujuan untuk dibongkar dan dimasukkan ke vessel untuk dilanjutkan perjalanan menuju lokasi konsumen.

Penanganan batubara yang panjang ini harus dilakukan dengan benar agar kualitasnya tidak turun dan tetap terjaga sesuai dengan yang dijanjikan kepada konsumen saat diterima. Perencanaan yang matang dan pengelolaan yang efektif dalam aktivitas pit to port sangat penting untuk memastikan keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan dari seluruh prosesnya.

 

Baca Juga: 15 TUGAS DRILL AND BLAST ENGINEER YANG WAJIB KAMU KETAHUI 

Drill and blast engineer (D&B Engineer) adalah seorang profesional di bidang pertambangan yang bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan peledakan di area tambang untuk menghancurkan batuan menjadi material dengan ukuran yang lebih sederhana.

Drill and blast engineer terlibat dalam proses pengeboran dan peledakan, mulai dari perencanaan, perhitungan desain pengaturan alat dan perlengkapan, hingga pemantauan peledakan. Bukan selesai hanya pada aktivitas pengeboran dan peledakan saja, namun inilah 15 jobdesk spesifik yang akan dikerjakan oleh D&B Engineer:

  1. Pembuatan D&B proposal yang berisikan rencana pengeboran dan peledakan
  2. Menentukan Blast Geometry Design (burden, spasi, steaming, tinggi jenjang)
  3. Pembuatan Drill Design (biasanya dibuat menggunakan software Surpac) yang akan dijadikan acuan oleh pengawas pengeboran dan drill operator sebagai acuan dalam pengeboran lubang ledak
  4. Melengkapi data dalam explosive charging sheet atau Lembar acuan pengisian lubang ledak yang dibuat menggunakan SDoB (Scaled Depth of Burial) untuk mengurangi potensi terjadinya over energy
  5. Melakukan perencanaan explosive requirements and explosive forecast untuk merencanakan penggunaan bahan peledak di setiap aktivitas peledakan
  6. Menyusun design peledakan (tie up design) menggunakan aplikasi pendukungnya, biasanya menggukanan JKSimblast Software
  7. Memprediksi dampak peledakan seperti ground vibration, blast clearance radius, dll
  8. Memprediksi distribusi fragmen batuan hasil peledakan (prediction of fragmentation)
  9. Komunikasi dan koordinasi harian dengan D&B Supervisor/Foreman untuk rencana pengeboran dan peledakan harian
  10. Memimpin kegiatan peledakan, atau bertindak sebagai blast coordinator/blast controlling
  11. Monitoring dampak peledakan
  12. Mengevaluasi drill performance yang telah dilakukan
  13. Berkoordinasi dengan mine production engineer mengenai pengaruh hasil fragmentasi hasil drill and blast terhadap produktivitas alat gali
  14. Menyusun monthly report performa kegiatan drill and blast
  15. Membuat blasting economics report mengenai biaya kegiatan drill and blast.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa setiap aktivitas peledakan yang dilakukan di tambang secara rinci sudah direncanakan dan diperhitungkan oleh D&B Engineer. Sehingga kegiatan drilling and blasting bisa berjalan dengan aman dengan hasil yang maksimal.

Jadi, apakah kalian sudah siap menjadi seorang Drill and Blast Engineer?

Baca Juga: Kecelakaan Tambang Tahun 1906 Tewaskan 1.060 Jiwa

Tantangan pertambangan batubara di Indonesia mencakup beberapa aspek yang perlu diatasi agar industri ini dapat beroperasi secara berkelanjutan. Berikut adalah penjelasan lebih detail tentang tantangan yang dihadapi:

1. Masalah Lingkungan

Salah satu tantangan utama dalam industri pertambangan batubara adalah dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan. Proses penambangan batubara dapat menimbulkan polusi udara, air dan tanah. Emisi gas karbon dioksida (CO2) dari pembakaran batubara juga menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global. Hal ini dapat berdampak negatif pada lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi.

2. Masalah Sosial

Aktivitas pertambangan batubara juga seringkali menimbulkan masalah sosial, seperti konflik lahan dan hak-hak masyarakat yang terabaikan. Kegiatan pertambangan dapat mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat lokal, seperti peningkatan harga tanah, pemaksaan penggusuran, dan kerusakan lingkungan yang mengurangi ketersediaan sumber daya alam bagi masyarakat sekitar.

3. Regulasi dan Pengawasan

Tantangan lainnya adalah kurangnya pengawasan dan regulasi yang memadai dalam industri pertambangan batubara. Regulasi yang lemah dan kurang ketat dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang besar. Kurangnya pengawasan juga dapat memperburuk masalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang dapat merugikan masyarakat.

4. Teknologi dan Inovasi

Industri pertambangan batubara masih bergantung pada teknologi dan metode penambangan yang tradisional dan kurang efisien. Perlu dilakukan inovasi dan pengembangan teknologi yang lebih canggih dan ramah lingkungan untuk mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi produksi.

5. Harga Pasar

Harga batubara yang fluktuatif juga menjadi tantangan bagi industri pertambangan batubara di Indonesia. Terkadang harga batubara naik drastis dan turun secara tiba-tiba, tergantung pada permintaan pasar global. Hal ini dapat mempengaruhi ekonomi nasional dan stabilitas industri pertambangan batubara.

Dalam mengatasi tantangan yang dihadapi, perlu dilakukan upaya bersama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan pengawasan dalam industri pertambangan batubara serta mendorong inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Perusahaan tambang batubara juga perlu meningkatkan tanggung jawab sosial dan lingkungan, serta berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Masyarakat juga perlu diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan yang terkait dengan aktivitas pertambangan, sehingga dapat terjadi kesepakatan dan manfaat bersama dalam pengelolaan sumber daya alam.

Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam sehingga menjadikan Indonesia sebagai pemain global dalam industri Pertambangan, tercatat pada tahun 2021 Indonesia adalah negara penghasil nikel terbesar nomor 1 didunia disusul diurutan ke 2 dan 3 yaitu Filipina dan Rusia.

Selain Nikel, Indonesia merupakan eksportir batubara terbesar di dunia, tercatat pada tahun 2022 ekspor Indonesia mencapai titik tertinggi dalam sejarah yaitu 671,75 juta ton melebihi target produksi yang ditetapkan pemerintah sebesar 663 juta ton.

Karenanya hal tersebut perusahaan tambang di Indonesia pun sangat banyak dan menjamur terutama di pulau sulawesi yang kaya akan nikel dan Kalimantan yang kaya akan batubara.

Untuk menunjang operasionalnya, perusahaan tambang menggandeng usaha jasa pertambangan atau yang lebih umum disebut kontraktor tambang.

Lalu siapa kontraktor tambang terbesar di Indonesia? mari kita urutkan berdasarkan besaran produksinya.

Daftar kontraktor tambang terbesar tahun 2022

1. Pama Persada Nusantara (PAMA)

PT Pamapersada didirikan pada tahun 1991 sebagai perusahaan kontraktor tambang batubara di bawah naungan PT United Tractors Tbk yang merupakan distributor resmi alat berat Komatsu di Indonesia.

PAMA memiliki 15 job site operasi pertambangan batubara dan 2 pertambangan emas yang tersebar di wilayah Kalimantan, Sumatra dan Sumbawa. Sepanjang perjalannya setidaknya kontraktor tambang ini telah bekerja sama dengan 38 perusahan tambang di Indonesaia, dengan project pertama kali dengan PT Allied Indo Coal pada tahun 1991-1993.

Dilansir dari website resmi perusahaan pamapersada.com pada 2022 dengan total 17 jobsite dan produksi sebesar 937 juta bcm overburden menjadikan PAMA juara 1 kontraktor tambang terbesar di Indonesia.

2. Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA)

PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) merupakan anak usaha PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) mengawali usaha dari perusahaan kontraktor perkebunan kelapa sawit pada 1998. Saat ini BUMA menjadi kontraktor tambang besar di Indonesia.

Adapun perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang bekerja sama dengan BUMA adalah PT Berau Coal, PT Adaro Indonesia, PT Bayan Resources dan linnya. Kontraktor tambang yang memiliki warna seragam biru langit ini berhasil memproduksi 565 juta bcm pada tahun 2022 sehingga menempatkannya di posisi kedua pada daftar kontraktor tambang terbesar ini.

3. Putra Perkasa Abadi (PPA)

PPA adalah kontraktor tambang yang khusus bergerak dalam penyewaan alat berat, penyedia jasa pemindahan tanah & pertambangan. Kontraktor tambang ini didirikan pada tahun 2002 yang berawal dari usaha persewaan alat berat hingga saat sudah memiliki lebih dari 11 site, lebih dari 10.787 karyawan dan 2.087 alat berat dengan client dari komoditas batubara dan juga Nikel.

Beberapa perusahaan pertambangan besar yang menggunakan jasa Putra Perkasa Abadi adalah PT Kaltim Prima Coal, Bukit Asam, Adaro dan MHU, dengan volume produksi Overburden tahun 2022 sebesar 267 Juta bcm menjadikannya pemain baru yang masuk di urutan 3 besar kontraktor tambang terbesar di Indonesia.

4. Cipta Kridatama (CK)

PT Cipta Kridatama didirikan 8 April 1997 sebagai pengembangan dari jasa penyewaan dan penggunaan alat berat PT Trakindo Utama. Industri tambang Indonesia yang tumbuh pesat mendorong perusahaan mengubah haluan bisnis ke jasa pertambangan terpadu “dari tambang hingga pelabuhan’’ pada 2003.

Kontraktor tambang ini bergabung ke grub ABM Investama pada 2010 yang juga memiliki beberapa sister company untuk mendukung ekosistem penambangannya seperti PT Sanggar Sarana Baja dan PT Cipta Krida Bahari.

Perusahaan tambang besar yang memakai jasa CK diantaranya PT Borneo Indobara dan PT MHU, pada 2022 produksinya mencapai 200 juta bcm.

5. Adaro Service/Sapta Indra Sejati (SIS)

PT Saptaindra Sejati (SIS) adalah salah satu kontraktor tambang terbesar di Indonesia yang menyediakan berbagai layanan untuk industri pertambangan, mencakup banyak aspek mulai dari layanan kontrak pertambangan, pekerjaan sipil, dan pembangunan infrastruktur hingga logistik darat.

SIS memiliki tenaga kerja sebanyak 4.663 operator, 1.519 mekanik, 104 insinyur, 522 administrasi, dan 1.786 staf manajemen. Untuk menunjang operasionalnya kontraktor pertambangan ini juga memiliki lebih dari 2.800 unit alat berat, termasuk shovel dan excavator kelas 400 ton, serta dump truck berkapasitas 200 ton. Pada tahun 2022 produksi SIS sebesar 161 juta ton menempatkannya di posisi kelima daftar kontraktor tambang terbesar di Indonesia.

Baca Juga: Kenapa Muatan Pada Tongkang Tidak Rata?

Para kontraktor tambang di Indonesia memainkan peran penting dalam menunjang operasional industri pertambangan di negara ini. Pada tahun 2022, tiga kontraktor tambang terbesar di Indonesia adalah Pama Persada Nusantara (PAMA), Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan Putra Perkasa Abadi (PPA).

Dengan produksi yang besar dan dampak yang ditimbulkan, para kontraktor tambang ini membantu meningkatkan ekonomi Indonesia dan menunjang kesejahteraan masyarakat.

 

Penyebab perbedaan sifat fisik, persebaran, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara ternyata salah satunya dikarenakan Lingkungan Pengendapan! Beda kondisi lingkungan pengendapan maka beda juga karakteristik batubaranya. Nah, apa saja sih jenis-jenis lingkungan pengendapan yang bisa membuat perbedaan karakteristik batubara satu dengan lainnya?

Kriteria lingkungan pengendapan yang mendukung untuk pengendapan batubara diantaranya seperti:

Lokasi yang memenuhi kriteria tersebut diantaranya: Lingkungan paralik (pantai), dan Lingkungan limnik (rawa-rawa).

Menurut Diessel (1984) , lebih dari 90% batubara terbentuk di lingkungan limnik (area rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai).
Ini dia 5 jenis lingkungan pengendapan batubara, simak sampai akhir! Diessel (1992) membagi lingkungan pengendapan batubara menjadi 5, yaitu:

1. Braid plain
Dataran aluvial intramountana lokasi terendapkannya sedimen kasar berukuran >2mm. Karakteristik batubara yang terendapkan:

2. Alluvial Valley and Upper Delta Plain
Transisi dari lembah dan dataran aluvial dengan dataran delta, biasanya melalui sungai stadium dewasa yang memiliki banyak meander.
Karakteristik batubara yang terendapkan:

3. Lower Delta Plain
Dibedakan dengan upper delta plain karena adanya tingkat pengaruh air laut saat sedimentasi (mempengaruhi kesuburan pertumbuhan tanaman, pengotor, dan komposisi kimia).
Karakteristik batubara yang terendapkan:

4. Backbarrier Strand Plain
Memiliki permukaan yang relatif lebih rendah terhadap muka air laut. Sehingga gambut akan terakumulasi dalam satu tempat dan tidak berpindah-pindah.
Karakteristik batubara yang terendapkan sangat dipengaruhi oleh regresi dan transgresi air laut.

5. Estuari
Rasio sedimentasi dengan energi pantai sangat rendah sehingga tidak akan terbentuk endapan delta. Ciri batubara yang terendapkan di lingkungan esturari biasanya sangat tipis dan penyebarannya tidak menerus.

Baca juga bagaimana cara Analisa Kualitas Batubara

Tujuan dari eksplorasi batubara adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sumber daya batubara yang ada di sebuah wilayah tertentu. Informasinya yang diperlukan meliputi sebaran, kualitas, kuantitas, dan masih banyak lagi.

Ada apa saja tahapan eksplorasi batubara? Simak sampai akhir!

Tahapan eksplorsi batubara dibagi atas 4:
1. Survei Tinjau
2. Prospeksi
3. Eksplorasi Pendahuluan
4. Eksplorasi Rinci

1. Survei Tinjau (Reconnasissance)
Tujuan: Mengidentifikasi area-area yang mengandung batubara dan berpotensi untuk diselidiki lebih lanjut.
Data yang diambil meliputi data kondisi geografi, tata guna lahan, kesampaian daerah.
Kegiatan: Studi geologi regional, analisis inderaja, inspeksi lapangan dengan peta berskala 1 : 100.000.

2. Prospeksi (Prospecting)
Tujuan: Membatasi daerah sebaran endapan mineral yang akan dieksplor selanjutnya. Pemetaan geologi menggunakan peta minimal berskala 1:50.000.
Data yang diambil seperti data kedalaman, ketebalan, kualitas, dan sifat batuan.
Kegiatan: Pengukuran penampang stratigrafi, uji pemboran, penyelidikan geofisika.

3. Eksplorasi Pendahuluan (Preliminary Exploration)
Tujuan: Sebagai gambaran awal kualitas dan kuantitas batubara secara tiga dimensi. Pemetaan geologi dilakukan minimal dengan skala 1:10.000.
Kegiatan: pemetaan topografi, logging geofisika, pemboran sesuai dengan kondisi geologi.

4. Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration)
Tujuan: Mengetahui kuantitas dan kualitas endapan batubara secara tiga dimensi secara jelas. Pemetaan geologi dan topografi dengan skala minimal 1:2000.
Kegiatan: Pemetaan geologi, pemetaan topografi, pemboran, logging geofisika, pengkajian hidrogeologi dan geoteknik.

Semua rangkaian kegiatan eksplorasi ini tidak lepas oleh tim yang terdiri atas ahli geologi, geofisika, tambang, pemasaran, pengembangan, keuangan, dan masih banyak lagi yang berkolaborasi menjadi sebuah tim yang solid untuk menentukan lokasi tambang yang prospek dalam jangka waktu tertentu.

Baca juga Kenapa Muatan Tongkang dibuat Menggunung?

PT Bawah Tanah Solusindo
Copyright © 2010 – 2024 All Rights Reserved
chevron-downchevron-down-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram